All posts by kirana

Gambar 3 Park Area Buatan Sendiri

Membangun Area Parkir Memanfaatkan Kardus Bekas Susu / Sereal

Putra balita Anda suka main mobil-mobilan? Ada bertumpuk-tumpuk kardus bekas sereal/susu di rumah? Yuk, kita olah kardus-kardus bekas itu menjadi mainan yang menyenangkan untuk anak!
Kali ini, saya mempraktikkan membuat park area dari kardus bekas sereal / susu. Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain: kardus bekas, alat pewarna (saya pakai pastel), gunting, dan alat-alat perekat (lem / selotip /lakban). Lalu bagaimana cara membuatnya?
1. Potong salah satu sisi kardus yang lebar beserta tutup kardus sehingga diperoleh potongan-potongan seperti Gambar 1.

Potongan Kardus Bekas Sereal/Susu
Gambar 1 Potongan Kardus Bekas Sereal/Susu

2. Beri gambar/pola pada potongan-potongan kardus sesuai keinginan.

Gambar Park Area Pada Kardus
Gambar 2 Gambar Park Area Pada Kardus

3. Rekatkan potongan-potongan kardus membentuk park area sesuai imajinasi.

Gambar 3 Park Area Buatan Sendiri
Gambar 3 Park Area Buatan Sendiri

Dari bahan di atas, anak saya (3 yo) suka memvariasikan park area menjadi bertingkat maupun tidak bertingkat (Gambar 3). Ketika menjadi area parkir bertingkat, ia akan asyik mendorong mobil-mobilnya naik ke atas dan menggelincirkannya melalui bidang miring yang terbentuk. Ketika area parkir yang terbentuk hanya satu lantai, ia bagai memainkan mobil di area parkir kantor yang sangat luas! Seru kan? Memanfaatkan kardus bekas susu / sereal menjadi mainan yang mengasyikkan. Selamat mencoba!

Yuk, Ajak Anak Main Keluar Rumah!

Para ibu rumah tangga, terutama yang tidak memiliki asisten rumah tangga alias pembanntu, seringkali malas mengajak anak bermain keluar rumah. Berjuta alasan bisa muncul dan mencegah keinginan untuk keluar rumah. Padahal, Ibu Riva Nerindra (Kepala SDIT Nailufar Jakarta Timur) dalam mini seminarnya di Komupedia berkali-kali menekankan bahwa mengajak anak bermain keluar rumah itu penting.

Menurut Vemale, bermain di luar memberikan manfaat bagi anak seperti mempertajam kemampuan visual, meningkatkan kemampuan sosial, meningkatkan fokus, mengurangi stress, dan mencegah defisiensi vitamin D. Perlu kita ketahui bahwa banyak makanan-makanan yang disinyalir mengandung vitamin D sebenarnya bukan benar-benar mengandung vitamin D. Makanan-makanan tersebut sebenarnya hanya mengandung provitamin D, di mana ia perlu diaktivasi terlebih dulu agar dapat menjadi vitamin D yang bermanfaat bagi tubuh. Nah, sinar matahari pagi yang kita peroleh di luar rumah dapat membantu proses aktivasi ini tanpa membakar kulit.

Hampir setiap hari saya menemani anak-anak (3 tahun dan 7 bulan) bermain ke taman umum di daerah kami. Lalu apa saja yang kami lakukan di sana? Hal-hal berikut ini adalah yang biasa kami lakukan di taman tersebut:

1. Berjalan-jalan mengelilingi taman

Untuk mencapai taman, kami harus berjalan dari rumah. Jalanan dari rumah menuju taman kebetulan menanjak. Selain melatih fisik, aktivitas ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan dzikir yang disunnahkan ketika melalui jalan menanjak yaitu “Allahu akbar.” Perjalanan ini juga merupakan kesempatan bagus untuk memperkenalkan nama-nama tetangga yang rumahnya kami lewati.

2. Bermain bola

Anak-anak selalu tertarik dengan bola. Oleh karenanya, bola menjadi benda yang wajib kami bawa dari rumah. Di taman, saya bisa bermain bola bersama si sulung (3 tahun) sementara adiknya (7 bulan) bisa menonton atau memainkan sendiri mainan yang dibawa dari rumah.

Bola favorit milik si sulung via lazada co.id
Bola favorit milik si sulung via lazada co.id

3. Menyebutkan nama-nama benda di taman dan sekitarnya

Jika keadaan taman cukup ramai, artinya ada banyak anak-anak yang juga mengunjungi taman, saya mempersilahkan anak sulung saya untuk bermain bersama teman-teman sebayanya. Sementara itu, saya bisa mengobrol dengan adiknya (7 bulan) dengan memperkenalkan benda-benda yang terlihat di taman.

4. Memainkan permainan yang ada di taman

Di taman dekat rumah kami, ada beberapa alat permainan yang memang disediakan untuk umum seperti perosotan, ayunan, bola dunia, dan korsel sederhana (apa ya namanya yang benar? Maksud saya adalah alat permainan di mana anak duduk mengelilingi sebuah poros lalu mendorong poros tersebut agar alat permainan ini berputar mengelilingi poros). Kadangkala anak saya ikut bermain menggunakan alat-alat tersebut. Alat-alat permainan tersebut dapat bermanfaat untuk melatih motorik anak. Selain itu, dengan memainkan alat-alat tersebut bersama pengunjung lain, anak-anak belajar untuk mengantri, menunggu, dan bersosialisasi.

Taman Bermain via villaratu.com
Taman Bermain via villaratu.com

5. Melakukan hobi

Ketika anak sulung saya asyik bermain dengan teman-teman sebaya sementara adiknya tidur di kereta dorong, saya bisa memanfaatkan waktu ini untuk melakukan hobi saya yaitu membaca. Jika Anda tidak suka membaca, Anda bisa memanfaatkannya untuk kegiatan lain seperti merajut, menjahit, bersosialisasi dengan orang lain, atau sekadar berjalan-jalan dan berolahraga di taman.

6. Memanjat/menuruni tanggul

Nah, ini yang paling asyik. Posisi taman yamg sering kami kunjungi cukup tinggi di atas jalan. Ketika tiba saatnya pulang, menuruni taman dengan merayap di tanggul menjadi tantangan yang melatih kemampuan motorik anak dan juga memicu adrenalinnya.

Asyiknya memanjat naik taman
Asyiknya memanjat naik taman

Bagaimana dengan ibu-ibu di rumah? Apa yang biasa dilakukan ketika mengjak anak bermain di luar? Yuk, kita berbagi!

Kreasi Sablon Unik Menggunakan Pastel Oil Crayon

Bagaimana Anda menggunakan pastel/crayon? Memakainya sebagai pewarna? Menggunakannya langsung untuk menggambar? Pernahkah Anda coba memakainya seperti ini?

Kreasi Sablon Menggunakan Pastel
Kreasi Sablon Menggunakan Pastel

Kreasi di atas diadaptasi dari masa kecil saya dan kakak. Sekarang, saya melakukannya bersama anak-anak saya. Berikut cara kerjanya:

  • Siapkan kertas, alat tulis, gunting, dan pastel oil crayon.
  • Buat pola gambar yang diinginkan pada kertas, lalu gunting mengikuti tepian pola.
  • Warnai tepian pola yang telah digunting menggunakan pastel oil crayon.
  • Letakkan pola tersebut di atas selembar kertas, tekan erat-erat agar tidak bergeser.
  • Ajak anak untuk menggeserkan ibu jari/telunjuknya dari tepian pola ke kertas.
  • Aktivitas ini akan membentuk gambar sablon mengikuti pola sebagaimana gambar di atas.

Jika saat menggeserkan jari warna dari pola tidak bisa ikut keluar lagi ke kertas, silahkan tebalkan kembali warna di tepian pola menggunakan pastel oil crayon.

Menarik bukan? Selamat mencoba!

 

 

Pilah dan Masukkan Berdasar Warna

Pilah dan Masukkan Berdasarkan Warna

Aktivitas ini terinspirasi dari Sort & Drop with Lego Bricks di situs Toddler Approved! yang berfungsi untuk melatih anak melakukan klasifikasi berdasarkan warna. Anak saya belum memiliki permainan bricks (apalagi merk Lego :D) namun memiliki permainan puzzle angka dan huruf yang berwarna-warni. Kami pun menggunakan puzzle tersebut untuk melakukan permainan ini, sekalian untuk mengenalkan huruf dan angka sembari bermain. Berikut persiapan yang dibutuhkan dan cara memainkannya.

Pilah dan Masukkan Berdasar Warna
Pilah dan Masukkan Berdasar Warna (Dok. Al Mumtaz)

Persiapan:

  • Ambil kardus, lapisi dengan kertas, lalu beri lubang-lubang sebanyak macam warna bricks/puzzle. Ukurannya dibuat agar bricks/puzzle tadi mudah dimasukkan.
  • Beri list di sekeliling lubang dengan warna-warna bricks/puzzle.

Aktivitas:

  • Ajak anak memasukkan bricks/puzzle ke dalam kardus melalui lubang yang sesuai dengan warna bricks/puzzle.
  • Untuk anak yang sudah mulai belajar tentang huruf dan angka, ajak untuk menyebutkan huruf/angka yang tertera pada puzzle (optional).

 

 

Bis yang Dibuat dari Kotak Bekas Susu (Dok. Kirana)

Kreasi Mengolah Barang Bekas

Barang bekas di rumah banyak yang bisa dimanfaatkan sebagai media stimulasi kreativitas dan tumbuh kembang anak. Mengadopsi acara Art Attack, saya sangat terbantu dengan ramuan Art Attack yang akan membuat kreasi barang bekas menjadi lebih keras sehingga awet dan juga mudah dihias menggunakan cat. Ramuan Art Attack merupakan campuran lem PVAC (misalnya merk FOX ) dan air dengan perbandingan satu banding satu.

Bis yang Dibuat dari Kotak Bekas Susu (Dok. Kirana)
Bis yang Dibuat dari Kotak Bekas Susu (Dok. Kirana – Al-Mumtaz)

 

Untuk memanfaatkannya, mula-mula kita buat kreasi yang diinginkan menggunakan barang-barang bekas seperta kardus, karton makanan, botol plastik, dan sebagainya. Selanjutnya, oleskan ramuan ke seluruh bagian produk kreasi kita dan tempelkan potongan-potongan kertas koran hingga produk tertutup seluruhnya. Lapisan koran berfungsi sebagai media agar produk bisa dicat. Setelah seluruh permukaan produk terbalut kertas koran, oleskan lagi ramuan Art Attack di seluruh permukaan koran pelapis sebagai media pengeras. Semakin tebal dan pekat lapisan lem yang dioleskan, akan semakin keras pula hasilnya. Selanjutnya, jemur hasil kreasi hingga kering. Untuk hasil terbaik, keringkan hasta karya di bawah sinar matahari. Setelah kering, hasil kreativitas anak telah menjadi lebih keras dan semakin kuat. Kreasi tersebut  juga sudah available untuk dicat sesuai selera.

Dengan cara di atas, berbagai imajinasi kreatif dapat diwujudkan menggunakan benda-benda di sekitar kita. Selain ramuan Art Attack, saya juga sangan engapresiasi penggunaan kertas koran yang menggantikan tissue pada acara Art Attack tempo dulu. Substitusi ini membuat kreasi kita menjadi lebih ramah lingkungan dan merupakan langkah konkret dalam menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Adapun sebagai inspirasi kreasi memanfaatkan barang bekas, Anda bisa langsung mengunjungi situs Art Attack.

Ibu-Profesional_w (1)

Hei, Ini Aku: Ibu Profesional!

Ibu-Profesional_w (1)Judul Buku: Hei, Ini Aku: Ibu Profesional!

Penyusun: Institut Ibu Profesional

Penerbit: Leutika Prio

Cetakan, Tahun Terbit: I, Desember 2012

Tebal: 253 halaman + viii

 

 

 

Jika kamu marah, kamu masih minta maaf pada anak-anak. Jika kamu berteriak pada mereka, kamu masih bisa memeluk dan mencium mereka, sambil minta maaf. Apakah pembantu atau baby sitter bisa melakukan itu? (halaman 55-56).

Walaupun saya hidup serba kekurangan, namun bahagianya seorang anak yang diberikan cinta kasih tulus tak dapat tergantikan dengan materi. (halaman 60).

Hei, Ini Aku: Ibu Profesional! merupakan antologi tulisan pilihan dari para anggota Institut Ibu Profesional (IIP). Di dalamnya, terdapat tulisan-tulisan karya 24 ibu rumah tangga dan 1 orang ayah. Uniknya, seluruh proses pra produksi buku ini juga digarap sendiri oleh para kartini anggota IIP. Dari proses mengumpulkan tulisan, editing, hingga desain isi serta cover. Hebat ‘kan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga berarti tidak bisa menyalurkan kompetensi di luar urusan rumah tangga?

Antologi ini dibagi ke dalam tiga bagian besar, yaitu Kepingan Pertama: Metamorfosis, Kepingan Kedua: Lensa, serta Kepingan Ketiga: Bisa!Kepingan pertama menceritakan kisah-kisah para ibu yang baru saja mengawali profesinya sebagai ibu rumah tangga. Baik karena mereka baru membentuk bahtera rumah tangga atau karena memutuskan resigndari pekerjaannya di kantor. Di sini akan tergambar beratnya menjadi seorang ibu rumah tangga, hal yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka saat masih menjadi seorang wanita karir. Di tengah pergumulan mereka menghadapi kekacauan rumah tangga, pertemuan dengan IIP bagaikan menemukan oase di padang pasir.

Tidak semua ibu rumah tangga mengawali profesi ini dengan penuh kekacauan. Beberapa ibu telah memiliki kemampuan yang cukup stabil dan dapat menjalankan perannya dengan baik. Walaupun demikian, tetap saja mata mereka terbuka lebar ketika mengenal IIP. Berbagai wawasan, ide, dan kemampuan ter-upgrade secara signifikan sejak mengikuti perkuliahan di IIP. Terekam dalam kepingan kedua, mereka kini bukan lagi ibu rumah tangga biasa, namun telah mengepakkan sayapnya menjadi seorang ibu rumah tangga profesional yang membanggakan.

Lalu bisakah setiap wanita menjadi seorang ibu rumah tangga profesional? Tentu saja jawabnya, bisa! Inilah isi dari kepingan ketiga Hei, Ini Aku: Ibu Profesional!Para ibu di bagian ini menceritakan keberhasilan-keberhasilan yang pernah mereka capai menggunakan metode-metode yang dipelajari di IIP.

***

Buku ini merupakan pencerah yang ditunggu-tunggu oleh kaum wanita, khususnya para ibu rumah tangga. Wanita yang masih lajang akan dapat membaca kisah perjuangan dan karut marutnya emosi para ibu dalam mengukuhkan suatu bahtera rumah tangga agar dapat mewujudkan pepatah “Rumahku, Surgaku. Para wanita karir tidak akan lagi meremehkan profesi ibu rumah tangga. Para full-time motherpun tidak akan lagi minder dengan statusnya, bahkan akan semakin bersemangat untuk terus berkarya dan menjadi seorang ibu rumah tangga profesional.

Buku ini pun cocok dibaca oleh para ayah agar lebih menghargai ibu dan istrinya, menyadarkannya bahwa peran mereka begitu penting dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain itu, antologi ini dapat menginspirasinya untuk membawa keluarganya menjadi lebih baik sebagaimana yang dilakukan oleh Seno Pamungkas, sang ayah yang turut menulis antologi ini.

Banyak pelajaran dan inspirasi yang dapat diperoleh setelah membaca buku ini. Sebagai contoh, diterangkan secara detail bagaimana seorang ibu mendidik kemandirian anaknya menggunakan metode buku bintang (halaman 179-184). Sebuah metode yang tentu juga dapat diterapkan oleh para pembaca kepada keluarganya. Ada lagi bagaimana seorang ibu melakukan toilet trainingkepada anaknya (halaman 217-219), melatih anak-anak berpuasa Ramadhan dan ikhlas dalam beribadah (halaman 174-178), dan masih banyak kisah yang lain.

Walaupun ‘hanya’ ditulis oleh para ibu rumah tangga, namun intelektualitas dalam antologi ini tidak diragukan lagi. Selain karena tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan tulisan-tulisan pilihan, intelektualitas tulisan yang cukup tinggi juga dipengaruhi oleh backgroundpara ibu ini sebelum beralih menjadi full-time mother.Background para ibu ini bukan background orang sembarangan. Dari insinyur, dokter, konsultan, dan masih banyak lagi.

Pada akhirnya, buku ini membuka mata dan pikiran kita betapa ibu rumah tangga merupakan profesi yang sangat mulia. Sebuah profesi yang harus dijalankan secara profesional layaknya profesi kantoran. Profesi dengan Surat Keputusan langsung dari Sang Maha Pencipta, dengan gaji yang diterima juga begitu mahal yaitu surga (insya Allah, syarat dan ketentuan berlaku). Masalah rezeki, sudah ada yang mengaturnya dan rezeki setiap orang tidak akan terlewat. Sebagaimana prinsip IIP, “Be professional, rejeki follows.

Disarikan dari: MJEDUCATION.COM

homemade paint color

Mendidik Anak dengan Game Islami

Judul Buku: Mendidik Anak dengan Game Islami

Penulis : Ummu Raihan

Penerbit : Gazzamedia

Cetakan, Tahun Terbit : I, September 2013

 

 

Sekarang ini banyak buku yang mencatut nama “Islami” dalam judulnya namun ternyata isinya tidak benar-benar Islami pada isinya. Islami yang bermakna mengikuti kaidah-kaidah Islam tidak benar-benar direalisasikan pada kebanyakan buku dengan judul seperti itu. Buku ini bagai angin segar di tengah maraknya pencatutan istilah “Islami”, dengan menyajikan inspirasi-inspirasi stimulasi yang insyaa Allaah tidak menyalahi aturan-aturan dari al-Qur’an maupun al-Hadits yang shahih/hasan.

Permainan-permainan yang dituliskan dalam buku ini bermanfaat untuk menstimulasi berbagai aspek mulai dari emosi sosial, bahasa, kognitif, hingga motorik kasar dan halus. Bukan sekadar permainan yang menstimulasi aspek-aspek tadi, tapi permainan-permainan dalam buku ini juga dimuati dengan muatan-muatan edukatif religius sebagai usaha agar anak menjadi pribadi muslim yang kokoh. Jadi anak diharapkan bukan hanya menjadi pribadi yang cerdas dan cekatan, tapi juga memiliki pondasi keimanan yang teguh. Materi-materi edukatif religius yang dapat diperoleh di buku ini meliputi aqidah, adab dan ibadah, hafalan Qur’an dan Hadits, mengenal huruf hijaiyah, dan bahasa Arab.

Permainan-permainan yang dituliskan dalam buku ini bermanfaat untuk menstimulasi berbagai aspek mulai dari emosi sosial, bahasa, kognitif, hingga motorik kasar dan halus. Bukan sekadar permainan yang menstimulasi aspek-aspek tadi, tapi permainan-permainan dalam buku ini juga dimuati dengan muatan-muatan edukatif religius sebagai usaha agar anak menjadi pribadi muslim yang kokoh. Jadi anak diharapkan bukan hanya menjadi pribadi yang cerdas dan cekatan, tapi juga memiliki pondasi keimanan yang teguh. Materi-materi edukatif religius yang dapat diperoleh di buku ini meliputi aqidah, adab dan ibadah, hafalan Qur’an dan Hadits, mengenal huruf hijaiyah, dan bahasa Arab.

Untuk memperkuat konsep dalam permainan-permainan di bagian pertama buku, penulis berbaik hati menguraikan materi singkat tentang basic keislaman pada bagian kedua buku ini. Materi-materi tersebut meliputi aqidah, akhlaq dan adab, fiqh/ibadah, tarikh, Qur’an, dan Hadits. Materi-materi tersebut disajikan dalam bentuk poin sehingga singkat, jelas, padat, dan tepat sasaran, didukung menggunakan dalil-dalil yang hanya diambil dari dalil-dalil yang shahih. Selain penjelasan yang memperkuat basic keislaman, penulis juga merincikan basic skill yang harus dikuasai anak dari skill bahasa, kognitif, motorik, sosial, emosional, kemandirian, dan juga seni.

Akhir kata, buku ini adalah buku yang patut dimiliki untuk setiap keluarga muslim yang ingin mendidik anak-anaknya dengan stimulasi-stimulasi yang berpegang teguh pada koridor syariat Islam yang shahih.

Disarikan dari: makanbuku

 

 

Sunni Home Schooling: Wadahi Kreativitas Ibu dan Anak

*Artikel ini pernah dimuat di majalah pendidikan MJEDUCATION.CO versi cetak, edisi Maret 2013

10488176_674297582649935_97145744630042924_n
Ibu dan Anak Sedang Bermain Bersama

Mendidik anak melalui homeschooling memang sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan global, namun tidak demikian halnya di Indonesia. Walaupun saat ini mulai banyak keluarga di Indonesia yang mulai menerapkan homeschooling, tapi mereka masih menjadi ‘kaum’ minoritas di negeri ini.  Berbagai tips dan panduan homeschooling yang bisa dijadikan referensi pun kebanyakan berasal dari praktisi homeschooling mancanegara. Padahal, tantangan yang dihadapi anak-anak Indonesia tentu saja berbeda dengan tantangan anak-anak di mancanegara. Keluarga-keluarga pelaku homeschooling di Indonesia pun mulai mencari ‘kawan’ di dalam negeri sehingga terbentuklah berbagai komunitas homeschooling, salah satunya adalah Sunni Home Schooling (SHS).

Menurut INETA Asia Pacific[i], setidaknya terdapat tujuh keuntungan seseorang bergabung dalam suatu komunitas. Ketujuh keuntungan tersebut antara lain kesempatan belajar yang luas (learning),  memperluas jaringan/koneksi (networking), media untuk berbagi pengalaman (sharing experiences), membuka kesempatan kerja (job opportunities), kesempatan berinteraksi dengan orang-orang yang ahli dalam bidangnya (meeting experts), memperoleh solusi atas problematika yang sedang dihadapi (solution to problems), serta kesempatan memperoleh produk tertentu secara gratis (free giveaway).  Adapun komunitas sendiri berasal bahasa Latin, communitas yang berarti ‘kesamaan’. Hal ini sesuai dengan karakter kebanyakan komunitas yang biasanya terbentuk karena adanya ketertarikan (bidang/lingkungan/minat/lainnya) yang sama di antara anggota-anggotanya. Di SHS, anggota-anggotanya disatukan oleh tujuan yang sama, yaitu untuk mencari metode pendidikan anak yang lurus sesuai dengan ajaran Islam. “Lurus artinya tidak melenceng ke kiri[ii]  ataupun ke kanan[iii], dengan manhaj[iv]  sebagaimana yang dipahami oleh para shahabat[v]. Jadinya ahlus sunnah wal jama’ah[vi],” tutur Maya, salah satu pengurus komunitas SHS, kepada MJEDUCATION.CO.

SHS pada awalnya merupakan sebuah komunitas yang dijalankan melalui mailing-list Yahoo dengan nama Sunni Home Schooling dengan anggota dari kalangan laki-laki maupun wanita. Seiring dengan berjalannya waktu, untuk mewadahi kaum ibu yang ingin bertanya agar lebih leluasa, dibentuklah grup tambahan di Facebook dengan nama yang sama dan hanya menerima anggota wanita.

Anggota SHS tidak hanya dapat memperoleh ilmu praktik maupun teori melalui dokumen atau post/thread di grup facebook, mereka juga dapat mengikuti kontes Kamis Kreatif yang rutin diselenggarakan setiap bulan. Kamis Kreatif merupakan ajang kompetisi yang menantang kreativitas ibu/anak-anaknya dalam melaksanakan program homeschooling. Kreativitas yang dimaksud bisa berupa inovasi alat peraga, metode penyampaian materi, hingga hasil karya anak. Tema kreativitas yang dikonteskan pun berbeda-beda setiap bulan. Sebagai contoh, tema Kamis Kreatif bulan Maret 2013 adalah Berhitung. Kontestan diminta untuk membuat alat peraga berhitung untuk anak-anak. Admin lomba mensyaratkan bahwa karya yang diikutsertakan adalah buatan sendiri/anak dan harus sesuai tema, menyertakan sumber ide (bila ada), serta mengunggah foto pada waktu yang ditentukan (deadline biasanya hari Kamis).  Anggota aktif SHS juga rutin menyelenggarakan ‘kopi darat’ (kopdar) setiap tahun. Acara kopdar biasanya diisi dengan pameran hasil karya anak, sharing pengalaman, dan  seminar dengan mengundang pemateri yang kompeten di bidangnya.

Komunitas Sunni Home Schooling dapat ditemukan di alamat mailing-list sunnihomeschooling@yahoogroups.com (umum) dan grup facebook Sunni Home Schooling (khusus wanita). SHS terbuka untuk siapa saja yang beragama Islam.

****

[i] INETA adalah sebuah organisasi independen dan non-profit yang dibentuk untuk mewadahi aspirasi para pengguna atau siapa saja yang tertarik dengan platform Microsoft.NET. INETA didukung oleh Microsoft Corporation dan sponsor-sponsor lainnya.

[ii] Liberal sehingga terlalu mengagungkan akal, padahal akal manusia itu terbatas

[iii] Terlalu ekstrem tanpa mengindahkan keilmuan yang shahih, padahal ilmu memperoleh kedudukan yang tinggi dalam Islam

[iv] Cara memahami dan menjalankan agama

[v] Orang-orang Islam yang hidup sezaman dan pernah bertemu dengan Rasul Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Mereka memahami Islam langsung dari beliau dan merupakan generasi terbaik umat Islam.

[vi]Sunnah= apa-apa yang pernah dilakukan oleh Rasul Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Jama’ah=generasi awal umat Islam yang menyaksikan diturunkannya wahyu, yaitu para shahabat. Ahlus sunnah wal jama’ah= Mereka yang teguh memahami dan menjalankan agama Islam dengan mengikuti apa-apa yang pernah dilakukan oleh Rasul dan para shahabat.